Sejarah LPM WPS

Pendirian

Didirikan sejak 28 Maret 1998 di bawah kepemimpinan Kak Relly, UKM WPS menyimpan perjalanan panjang tentang sebuah dedikasi dan semangat independensi mahasiswa. Melalui penelusuran arsip, kita dapat melihat bagaimana organisasi ini berulang kali bangkit dari masa vakum dan pembekuan, hingga akhirnya bertransformasi menjadi salah satu pilar pers mahasiswa di Politeknik Negeri Sriwijaya. 

Pra-2000

Sebelum milenium baru, jejak organisasi ini terasa samar dengan nama Warta Polsri. Kegiatannya belum terorganisir sebagai lembaga pers mahasiswa, melainkan lebih banyak berfungsi sebagai media penerbitan jurnal akademis yang kaku. Titik terang muncul pada tahun 2000. Indra Bangsawan (Ketua Umum saat itu) menunjuk seorang mahasiswa baru, Marzuki Basir, untuk menghidupkan kembali "singa yang tertidur" ini melalui mandat penuh kepercayaan. 

Awal 2000 

Langkah awal kebangkitan dimulai dengan penugasan Marzuki dan Yosti untuk mengikuti Training Jurnalistik Politeknik se-Indonesia di Padang. Menariknya, keberangkatan mereka sempat mendapat tentangan keras dari MPM karena status Ormawa yang dianggap sudah mati. Namun, berkat dukungan penuh dari Presiden BEM saat itu, mereka tetap melangkah. Sepulang dari Padang, Marzuki Basir bergerak cepat menyusun fondasi organisasi secara mandiri: 

  • Merumuskan AD/ART
  • Membangun struktur organisasi baru
  • Menciptakan simbol/logo LPM WPS

Perlahan, personel mulai berkumpul seperti Erwin, Ningsih, Papang, Novi, dan Ade. Di era ini, nama LPM WPS mulai dikenal, penerbitan majalah WPS juga mulai dikerjakan mandiri oleh Marzuki di usaha sablon kost-annya. Dibantu oleh Pirwanto dan Samsul, Majalah edisi perdana akhirnya lahir dalam format hitam putih seharga Rp3.000. 

Untuk menarik minat anggota, mereka juga membuat ID Card bergaya wartawan profesional. ID Card ini menjadi "tiket sakti" untuk meliput konser besar (Padi, Jamrud, Raihan) hingga sesi foto bareng artis secara gratis! Dukungan birokrasi pun kuat di bawah bimbingan Pak Fuad (PD3 Bidang Kemahasiswaan) yang memastikan anggaran kegiatan selalu tersedia. 

2002-2004

Di Era ini, LPM WPS semakin mapan dengan rutin mengadakan pelatihan jurnalistik tingkat Kota Palembang hingga Sumatera Selatan. Sisi kreatif pun muncul melalui layanan "Pesan Cinta" di majalah (tarif Rp500) jauh sebelum era Facebook ada. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Senhia Evelyna (2002) dan Doni (2003).

2005-2007

Ujian berat kembali datang pasca tahun 2004. Pada periode 2005 hingga 2007, UKM WPS dibekukan oleh MPM. Pembekuan ini terjadi karena Ormawa ini dinilai tidak memiliki kegiatan rutin yang jelas, sementara regulasi di Polsri mewajibkan setiap UKM untuk aktif agar tetap diakui keberadaannya. 

Upaya penyelamatan-pun dilakukan pada tahun 2007 di bawah kepemimpinan Kak Mustika Ardiputra. Melalui kesepakatan dalam Musyawarah Besar (MUBES), organisasi ini resmi diaktifkan kembali dengan perbaikan sistem total. 

2014

Perubahan signifikan kembali terjadi pada rentang tahun 2014. Berdasarkan arahan dari pihak Lembaga/Kemahasiswaan Politeknik Negeri Sriwijaya terkait penyeragaman nomenklatur organisasi, nama LPM WPS secara resmi bertransformasi menjadi UKM WPS (Unit Kegiatan Mahasiswa Warta Politeknik Sriwijaya). Perubahan ini menandai posisi organisasi yang setara dengan unit kegiatan mahasiswa lainnya di lingkungan kampus, namun tetap mempertahankan semangat jurnalistik yang diwariskan sejak era 2000-an. 

Saat ini

Saat ini, UKM WPS telah berkembang pesat, penyebaran Informasi informasi yang dulunya hanya konvensional sekarang telah memasuki ranah media sosial dan portal berita daring demi menjangkau audiens mahasiswa di era modern. Sebagai wadah pengembangan kreativitas, organisasi ini tidak hanya fokus pada pelaporan berita, tetapi juga menjadi tempat bertumbuh bagi talenta desain grafis, videografi, dan media kreatif lainnya, namun tetap berpijak pada nilai independensi serta integritas yang diwariskan sejak masa berdirinya.