Kemegahan Pagoda Pulau Kemaro malam ini terasa makin sempurna dengan ribuan lampion yang menyala terang di setiap sudutnya. Ribuan warga dari dalam maupun luar Palembang memadati ikon wisata religi ini untuk menyaksikan perayaan Cap Go Meh sebagai penutupan rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang telah berlangsung sejak 26 Februari dan berakhir pada 02 Maret 2026.
Menariknya, mereka yang datang tidak hanya berasal dari kalangan peziarah yang ingin melakukan ritual ibadah. Banyak warga umum dari berbagai latar belakang etnis dan agama turut hadir untuk sekedar berwisata, berburu foto, berburu jajanan, atau menikmati suasana malam yang meriah. Hal ini menjadikan perayaan Cap Go Meh menjadi festival tahunan yang dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Keunikan utama dari perayaan Cap Go Meh di Palembang adalah tradisi penyembelihan kambing hitam sebagai penghormatan kepada leluhur, khususnya pada Siti Fatimah dan Tan Bun An yang makamnya berada di area Kelenteng Hok Tjing Bio, Pulau Kemaro, Palembang. Selain ritual sakral tersebut, atraksi barongsai dan kembang api menjadi hiburan yang paling dinantikan oleh pengunjung. “Atraksi barongsai tahun ini terasa lebih berwarna dan sangat menghibur,” ujar Selin, salah satu pengunjung.
Tak hanya hiburan di dalam pulau, akses menuju Pulau Kemaro juga memberikan keunikan dengan kehadiran jembatan ponton. Jembatan terapung ini memungkinkan ribuan peziarah dan wisatawan berjalan kaki menuju pulau yang biasanya hanya bisa diakses dengan perahu. Sensasi berjalan di atas goyangan air sungai ini menjadi pengalaman ikonik yang hanya ditemukan saat perayaan Cap Go Meh di Palembang.
“Tahun ini jumlah pengunjung jauh lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Jauhari selaku penyelenggara acara. Hal ini membuktikan bahwa perayaan Cap Go Meh telah menjadi momen kebersamaan yang menciptakan harmoni sosial dan toleransi. Di balik kebersamaan tersebut, tersimpan harapan agar para mahasiswa dapat menjadikan momen ini sebagai wadah nyata untuk belajar tentang toleransi dan keharmonisan.